Keyakinan Besar : Modal Awal Berprestasi

Ternyata, keyakinan itu nggak sebatas hal-hal yang agamis! Walaupun demikian, efek keyakinan secara umum sama. Keyakinan menentukan sikap dan tindakan kita! Ketika kita meyakini Islam sebagai satu-satunya pedoman hidup kita, maka sadar atau tidak sadar, keyakinan itu akan menentukan sikap dan tindakan kita. Kita akan berbicara baik karena Islam mengajarkan berkata-kata baik dan kita meyakini hal itu. Kita mentauhidkan Allah karena kita meyakini keesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma serta sifat-Nya. Kita shalat lima waktu sebaik-baiknya karena kita yakin inilah amal wajib yang pertama kali dihisab dan menentukan baik buruk amal lainnya. Nah, gimana efek keyakinan membuatmu lebih berprestasi? Keyakinan yang gimana yang bikin kamu berprestasi? Definisi (Ulang) Keyakinan Keyakinan adalah sesuatu yang kita yakini dan hidup di dalam batin kita, yang entah secara sadar atau enggak, menentukan sikap-sikap dan tindakan kita. Selain keyakinan agama, keyakinan juga bisa berwujud “lain”. Keyakinan bisa berwujud aturan atau hukum yang menyatakan sebab akibat yang hidup di dalam hati kita. Misalnya, bila tidak memiliki gelar sarjana, jangan harap bisa jadi manajer; bila saya mau jadi juara satu, maka saya harus giat belajar; bila ulangan matematika saya bernilai jelek, maka saya murid bodoh. Keyakinan dapat juga terwujud dalam kata-kata seperti ini, “Keluargaku hanya kuli rendahan, tentu saja aku tak pantas jadi manajer.” Atau, “Kalau temanku yang pandai saja nggak bisa dapat nilai yang baik, bagaimana bisa aku mendapatkannya?” Keyakinan bisa juga berupa pernyataan mengenai sesuatu atau rumusan umum mengenai sesuatu yang ada di benak atau hati kita, dan memengaruhi sikap maupun tindakan kita. Contohnya: Nggak kerja keras nggak dapat uang, rajin pangkal pandai, saya adalah orang yang terampil, saya adalah orang yang tidak berbakat, dan sebagainya. Efek Keyakinan Keyakinan timbul dari pengalaman kita, apa yang kita baca, apa yang kita dengar, dan apa yang kita rasakan. Keyakinan akan dan telah melandasi cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Ada siklus antara keyakinan, tindakan, potensi kita, dan hasil yang kita peroleh. Apabila ktia yakin bahwa kita bisa mencapai hasil yang telah kita tetapkan, tindakan kita akan semakin intens dan sungguh-sungguh. Ketika tindakan kita banyak dan sungguh-sungguh, potensi yang kita gunakan akan semakin besar. Semakin besar potensi yang ktia gunakan, hasilnya akan semakin besar pula. Semakin besar hasilnya, kita akan semakin yakin. Sebaliknya, jika hasil kita tidak bagus, keyakinan kita akan menciut. Semakin kecil keyakinan kita, semakin sedikit tindakan kita. Sudah sedikit, nggak dilakukan dengan sungguh-sungguh lagi. Semakin sedikit tindakan dan kesungguhan kita, semakin sedikit potensi yang digunakan, semakin kecil hasilnya. Dus, semakin yakin pula bahwa kita tidak mampu. Nah lho! Ada temen kita yang merasa nggak punya bakat dalam suatu bidang atau pelajaran. Matematika misalnya. Apakah ia memang bodoh dalam pelajaran matematika? Belum tentu. Bisa jadi perasaan nggak berbakat itu disebabkan oleh sebuah pengalaman nggak enak yang keciiil banget nilainya di masa lalu. Misalnya saja, waktu masuk SD, ia belum diajari konsep angka 1, 2, 3, … oleh ortunya. Ternyata, temen-temen barunya di SD udah ngerti angka-angka dan konsepnya. Tambahan lagi, gurunya juga mengajar dengan cara yang salah. Bisa jadi ia minder, merasa nggak bisa matematika. Lalu, nilai latihannya jelek terus. Karena kejadian itu, ia yakin dalam hatinya bahwa ia tidak bakat dalam matematika. Tahun-tahun selanjutnya, karena ia udah yakin dirinya nggak bakat matematika, saat pelajaran matematika pun ia ogah-ogahan ngikutin. Gara-gara males, ulangan dan ujiannya pun jeblok. Dia tambah yakin lagi kalo dirinya nggak bakat matematika. Perlu diingat, ketika dapat hasil yang jelek, 97% orang akan semakin loyo. Hanya 3% saja yang merasa tertantang untuk bertindak; belajar dan berusaha lebih banyak.

Keyakinan, Tindakan, dan Buahnya Apa pun yang kamu yakini dengan segenap perasaan, hal itu akan berbuah nyata. Semakin besar keyakinan kamu, semakin banyak emosi yang kamu libatkan di dalamnya, semakin besar pengaruhnya terhadap perilaku kamu, dan terhadap segala sesuatu yang terjadi pada dirimu. Jika kamu benar-benar yakin bahwa kamu adalah seorang yang baik dan memiliki kemampuan yang luar biasa, dan bahwa kamu akan melakukan hal-hal yang luar biasa pada hidupmu, keyakinan itu akan langsung terlihat dalam tindakan-tindakanmu. Pada akhirnya, semua itu akan menjadi kenyataan yang benar-benar terjadi kepadamu. Tanggung jawab terbesar yang kamu miliki bagi diri kamu adalah kewajiban untuk mengubah keyakinan-keyakinan yang tertanam di dalam dirimu sedemikian rupa sehingga menjadi konsisten dengan kenyataan-kenyataan yang ingin kamu nikmati keberadaannya dalam kehidupanmu secara nyata. Kamu selalu akan dapat mengetahui keyakinan seseorang dengan melihat apa yang dilakukannya. Kamu akan selalu menunjukkan nilai keyakinanmu yang sebenarnya dalam tindakanmu. Tindakanmu di luar akan selalu konsisten dengan siapa kamu yang sebenarnya, dan apa yang benar-benar kamu yakini di dalam dirimu.

Kisah Nyata tentang Keyakinan Ada cerita hebat tentang Adam Khoo, bocah Singapura. Saat berusia 12 tahun, Adam dicap sebagai anak yang bodoh, malas, madesu (masa depan suram). Saat masuk SD, ia benci membaca, maunya main game dan nonton TV. Karena nggak belajar, nilainya jelek. Karena nilainya jelek, ia jadi makin benci belajar, benci gurunya, dan benci sekolah. Saat kelas 3, ia D.O. dari sekolah. Saat mau masuk SMP, 6 sekolah menolaknya, akhirnya ia diterima di sekolah terburuk. Di sekolah terburuk itu, ia menduduki rangking 10 terbawah. Ortunya kelimpungan. Adam diikutkan les ini itu, tapi tak menolong. Rata-rata nilainya adalah 40 dalam skala 100. Pada umur 13 tahun, Adam disertakan dalam program pelatihan yang diasuh oleh Ernest Wong. Dalam pelatihan itu, Wong berkata, “Satu-satunya hal yang bisa menghalangi kita adalah keyakinan kita yang salah dan sikap yang negatif.” Adam terpengaruh. Ia mulai berubah. Adam memilih keyakinan bahwa kalo ada orang yang bisa mendapatkan nilai A, dia juga bisa. Selama ini ia bodoh karena dia masih muda, lugu, dan menerima sepenuh hati kata-kata orang lain yang negatif. Untuk pertama kalinya, Adam berani menentukan targetnya, yaitu mendapatkan nilai A semua. Dia juga menargetkan masuk ke SMA terbaik, Victoria Junior College. Tujuan jangka panjangnya adalah masuk National University of Singapore (NUS) dan jadi mahasiswa terbaik di sana. Tentu saja temen-temennya menertawakannya. Tidak ada lulusan SMP terburuk itu yang bisa masuk ke SMA terbaik dan kuliah di NUS. Bukannya patah semangat, Adam malah semakin tertantang untuk berusaha keras dan cerdas meraih impiannya. Dalam waktu 3 bulan, rata-rata nilainya naik jadi 70. Dalam satu tahun, dari rangking terbawah, ia menduduki rangking 18. Saat lulus SMP, ia dapet rangking 1 dengan nilai A untuk semua mata pelajaran yang di-UNAS-kan. Akhirnya ia masuk ke SMA terbaik incarannya. Tiga tahun kemudian, ia pun masuk ke NUS, setiap tahun jadi juara, dan akhirnya mendapat program khusus, NUS Talent Development Program, program buat mahasiswa jenius. Pada usia 26 tahun, Adam Khoo mempunyai empat bisnis yang beromzet 20 juta dollar AS. Hebat. Inilah contoh nyata keyakinan yang keliru bikin kita rugi, dan keyakinan yang benar memotivasi tindakan yang positif dan akhirnya, dengan izin Allah, menghasilkan kesuksesan.

Langkah-Langkah Berprestasi Apa yang dilakukan Adam Khoo? Ia mengambil tindakan nyata setelah ikut pelatihan itu. Ia secara sadar mengubah keyakinannya. Keyakinannya yang buruk bahwa ia bodoh, madesu ia buang jauh-jauh. Keyakinan yang baru ia install: jika orang lain bisa dapat nilai A, aku pasti juga bisa. Jika dipecah menjadi langkah-langkah, kesuksesan Adam Khoo dicapai lewat: Langkah pertama: mengubah keyakinan yang salah menjadi keyakinan yang tepat. Dari yakin bahwa “Saya bodoh, madesu,” menjadi “Kalo orang lain bisa dapet A, aku juga bisa!” Langkah kedua: menetapkan tujuan yang mantap, yaitu, “Nilai harus A, juara pertama, masuk Victoria, masuk NUS, jadi mahasiswa berprestasi. Langkah ketiga: punya alasan kuat, ia bahkan mengucapkan komitmennya itu di depan teman-temannya dan ditertawakan. Akibatnya, kalo nggak dapat nilai A, ia akan malu, sedangkan jika dapat, ia akan bangga. Langkah keempat: ia punya strategi yang tepat. Ia belajar menggunakan teknik membaca cepat, cara mencatat dengan kedua belahan otak, dan menggunakan teknik mengingat super. Bagaimanapun juga, langkah awal Adam Khoo adalah mempunyai keyakinan yang benar! Ia mengganti keyakinannya; ia buang keyakinannya yang salah dan ia ganti dengan keyakinannya yang benar, keyakinan yang memotivasi dirinya.

Di mana posisi kamu sekarang ini? Yang tahu hanyalah Allah kemudian kamu sendiri. Di mana pun posisi prestasi kamu, cari tahu keyakinan apa yang membuatmu seperti itu. Jika keyakinanmu terhadap dirimu udah positif, bersyukurlah kepada Allah. Jika belum, mulai ubahlah keyakinanmu sekarang juga dengan yang lebih baik! Selamat berubah menjadi lebih baik! (irvsya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s